Kemdiktisaintek Perkuat Nilai Tambah Kratom, Kolaborasi Riset untuk Hilirisasi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto
Mediateduh.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menekankan pentingnya menyatukan berbagai upaya penelitian yang selama ini berjalan, agar pengembangan kratom dapat bergerak lebih cepat menuju tahap hilirisasi. Hal ini disampaikannya saat membuka kegiatan Diskusi Para Ahli: Pengembangan Kratom, Akselerasi Industri, Standardisasi, dan Harmonisasi Kebijakan, di kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Rabu (14/10).
“Beberapa pakar menyampaikan bahwa lebih dari 90% kebutuhan kratom saat ini dihasilkan dari tanah Indonesia, dan secara kualitas juga sangat baik dibandingkan kratom dari negara-negara lain. Harapannya dari pertemuan hari ini kita bisa melihat posisi setiap ahli, dan bisa berjalan bergandengan tangan dan bersama menaikkan bendera merah putih,” tegas Menteri Brian.
Mendiktisaintek menilai, pengembangan kratom perlu dilakukan secara sinergis dari hulu hingga hilir. Penelitian budidaya tanaman harus berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi pemisahan dan pemurnian senyawa aktif, serta pengembangan aplikasi yang dapat menghasilkan produk komersial.
Dengan pendekatan tersebut, nilai tambah dari sumber daya kratom diharapkan dapat lebih banyak dihasilkan dan dinikmati di dalam negeri.
Terdapat tiga klaster pengembangan yang dinilai perlu diperkuat. Pertama, penguatan budidaya sebagai fondasi hulu, termasuk menjaga kualitas dan ketahanan tanaman. Kedua, penguasaan teknologi separasi dan purifikasi untuk memisahkan serta memurnikan senyawa aktif kratom. Ketiga, pengembangan aplikasi dan produk komersial yang memenuhi kebutuhan pasar dan ketentuan yang berlaku.
Menurut Mendiktisaintek, pengembangan industri tidak dapat dibebankan kepada peneliti atau perguruan tinggi semata. Perguruan tinggi dan peneliti berperan menghasilkan pengetahuan serta teknologi, sementara industri dapat menjadi mitra untuk mengembangkan dan memasarkan produk.
Melalui skema kerja sama yang tepat, peneliti dan inovator tetap dapat terhubung dengan pemanfaatan hasil riset, termasuk melalui royalti dan pengembangan teknologi lanjutan.
“Industri nanti yang menjalankan, tentu setelah ini berjalan semua, pihak universitas, para peneliti, para inovator, tetap terhubung dengan mendapatkan royalti dan juga akan terus memperbarui teknologi,” jelas Menteri Brian.
Mendiktisaintek juga mengingatkan bahwa percepatan hilirisasi perlu mempertimbangkan keberlanjutan pasokan bahan baku.
Pengembangan industri harus ditopang budidaya yang kuat dan mampu menjaga kualitas tanaman agar investasi pengolahan tidak terhambat oleh persoalan di tingkat hulu.
Karena itu, setiap klaster perlu memiliki langkah implementasi yang jelas sesuai dengan tahap kesiapan riset dan teknologinya.
Kemdiktisaintek terus berperan sebagai fasilitator dan katalisator untuk membantu menghubungkan kebutuhan peneliti, regulator, dan industri.
Dukungan dapat diarahkan pada bagian yang memerlukan percepatan, baik dalam pengembangan riset, penyelarasan kebutuhan regulasi, maupun penjajakan kerja sama dengan mitra industri.
Dalam pengembangan kratom, kepastian regulasi dan standardisasi menjadi bagian penting untuk menjembatani riset dengan industri.
Kolaborasi dengan lembaga terkait diperlukan agar peneliti memahami persyaratan keamanan, mutu, dan ketentuan pemanfaatan senyawa aktif sejak tahap pengembangan.
Sebaliknya, regulator juga perlu memperoleh gambaran mengenai kemajuan riset dan kebutuhan yang muncul dalam proses hilirisasi.
Pembahasan tersebut menjadi salah satu fokus dalam sesi diskusi mengenai tata kelola dan pengembangan pemanfaatan kratom di Indonesia.
Forum ini membahas perspektif pengendalian keamanan, regulasi, dan hilirisasi riset untuk mendukung pengembangan potensi kratom secara terukur.
Diskusi Para Ahli bertajuk “Pengembangan Kratom: Akselerasi Industri, Standardisasi, dan Harmonisasi Kebijakan” mempertemukan akademisi dan peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BPOM, Badan Narkotika Nasional (BNN), kementerian dan lembaga terkait, serta pelaku industri.
Melalui forum ini, Kemdiktisaintek mendorong pemetaan capaian riset dan kebutuhan tiap klaster sebagai langkah awal untuk memperkuat sinergi dan merumuskan tindak lanjut yang lebih konkret.
(Kontributor : Arif)
