Kepala BNPB dan Kepala BMKG Pantau Karhutla Papua Selatan, Kepulan Asap Masih Terlihat dari Udara
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi (kemeja dan topi tundra) bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani (kemeja biru topi hitam) saat meninjau karhutla dari dalam kabin helikopter Caracal di Merauke, Papua Selatan, Sabtu (31/10).
Mediateduh.com, Merauke - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan terus diperkuat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan peninjauan udara menggunakan helikopter Caracal milik TNI Angkatan Darat untuk memantau perkembangan kebakaran di sejumlah wilayah Kabupaten Merauke, Sabtu (31/10).
Dalam peninjauan tersebut, Kepala BNPB melihat secara langsung sejumlah kepulan asap yang masih membumbung tinggi dari beberapa lokasi. Bahkan, pada beberapa titik, api masih terlihat dari udara. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla di wilayah Papua Selatan masih membutuhkan perhatian dan upaya pengendalian secara intensif.
Kepala BNPB Kristomei Sianturi mengungkapkan bahwa hasil pengamatan udara menunjukkan masih terdapat sejumlah lokasi dengan aktivitas kebakaran. Selain itu, ia juga melihat indikasi pembukaan lahan dengan cara dibakar yang perlu menjadi perhatian bersama, khususnya masyarakat dan pemilik perkebunan.
“Memang tadi kita masih lihat beberapa daerah yang terlihat asapnya dan bahkan ada titik apinya,” ungkap Kristomei.
Ia mengingatkan masyarakat maupun pemilik perkebunan agar tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan. Praktik tersebut tidak hanya berpotensi memicu dan memperluas kebakaran, tetapi juga dapat menimbulkan dampak kesehatan akibat paparan asap, terutama gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Ada beberapa lahan yang pembukaan lahannya dengan cara dibakar. Nah, ini yang perlu kita ingatkan kepada masyarakat dan pemilik perkebunan supaya tidak membakar, karena bisa berdampak kepada kesehatan seperti ISPA. Selain itu, karena pengaruh angin, api juga bisa meluas,” tambahnya.
Dari pantauan udara, beberapa kepulan asap terlihat berada di sekitar kawasan lahan konsesi perkebunan kelapa sawit milik swasta. Temuan visual ini menjadi perhatian dalam upaya memperkuat pengawasan dan memastikan lokasi-lokasi yang terindikasi terbakar segera ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.
Peninjauan udara tersebut menjadi bagian dari evaluasi langsung terhadap perkembangan karhutla sekaligus memastikan langkah penanganan yang telah dilakukan berjalan sesuai kebutuhan. Hasil pemantauan dari udara selanjutnya menjadi bahan koordinasi bagi BNPB, BMKG, pemerintah daerah, BPBD, serta unsur TNI-Polri dalam menentukan langkah penanganan di tingkat tapak.
Sebelumnya, dalam paparan di posko penanganan karhutla bersama jajaran kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, Kepala BNPB menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan selama tiga hari terakhir, salah satu wilayah konsesi perkebunan kelapa sawit di Merauke teridentifikasi memiliki konsentrasi titik api paling tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus dalam pengawasan dan penanganan karhutla di Merauke.
BNPB juga mengoptimalkan pemanfaatan teknologi drone dan sistem pemantauan digital untuk mengidentifikasi koordinat titik api sekaligus mengetahui lokasi dan status penguasaan lahan. Melalui dukungan teknologi tersebut, informasi mengenai kemunculan titik api dapat segera diteruskan kepada petugas kewilayahan untuk dilakukan pengecekan dan penanganan.
Selain pemantauan udara, upaya penanganan karhutla di Papua Selatan juga diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan bersama BMKG. Kepala BMKG menekankan bahwa pelaksanaan OMC harus dilakukan secara terukur dengan memperhatikan kondisi atmosfer dan potensi curah hujan di wilayah sasaran. Hujan yang diupayakan diharapkan cukup untuk membantu pembasahan lahan, tetapi tidak berlebihan hingga memicu risiko bencana hidrometeorologi lainnya.
BMKG juga akan terus menyuplai informasi prakiraan cuaca serta peta wilayah yang berpotensi mengalami kemunculan titik api baru. Informasi tersebut mencakup prakiraan hujan untuk tiga hingga sepuluh hari ke depan dengan perincian hingga tingkat kecamatan. Dukungan data ini diharapkan membantu pemerintah daerah dan petugas di lapangan melakukan langkah antisipasi, pencegahan, serta penanganan lebih dini.
Pelaksanaan OMC untuk mendukung penanganan darurat karhutla di Papua Selatan dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober hingga 5 November 2026. Operasi ini didukung pesawat Cessna Caravan C208B dengan nomor registrasi PK-SCG. Hingga Sabtu (31/10), operasi telah melaksanakan 13 sorti penyemaian awan dengan total penggunaan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 13.000 kilogram.
Melalui sinergi BNPB, BMKG, TNI-Polri, aparat penegak hukum, dan pemerintah daerah, upaya penanganan karhutla di Papua Selatan terus diperkuat. Pemantauan dari udara, identifikasi titik api berbasis teknologi, dukungan informasi cuaca, serta percepatan respons di lapangan menjadi langkah penting untuk menekan kebakaran agar tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan.
BNPB juga mengajak masyarakat dan seluruh pihak yang memiliki aktivitas di kawasan rawan karhutla untuk bersama-sama mencegah pembakaran lahan. Upaya pemadaman harus berjalan beriringan dengan pencegahan agar kemunculan titik api baru dapat dihindari dan penanganan karhutla di Papua Selatan berjalan lebih efektif.
(Kontributor : Arif)
