Skip to main content

Masjid Harus Jadi Ruang Moderasi dan Kerukunan

Kita bersyukur Astra terus melanjutkan program positif yang berkelanjutan untuk memakmurkan masjid dan mushola. Ini bentuk komitmen yang sangat patut diapresiasi, Menag, Rabu (26/11/2025).

Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya memastikan masjid dan musalla menjadi ruang ibadah yang hidup, inklusif, dan menjaga kerukunan antar sesama. Hal ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan secara daring pada Amaliah Astra Awards ke-5.

Acara ini digelar oleh Yayasan Amaliah Astra sebagai upaya memperkuat peran masjid dan musalla di lingkungan perusahaan. Penjurian final kegiatan tersebut berlangsung di Jakarta dan diikuti oleh 27 finalis yang berasal dari berbagai unit perusahaan dalam Grup Astra.

“Kita bersyukur Astra terus melanjutkan program positif yang berkelanjutan untuk memakmurkan masjid dan mushola. Ini bentuk komitmen yang sangat patut diapresiasi,” ujar Menag, Rabu (26/11/2025).

Menurut Menag, pengelolaan masjid pada masa kini memerlukan inovasi dan kreativitas. Program-program masjid yang berkembang pesat saat ini harus diimbangi dengan tata kelola yang baik dan SDM yang berkompeten.

Menag mengurai empat komponen penting pengelolaan masjid yang harus diperhatikan. Pertama, marbot.  “Marbot ini luar biasa jasanya. Mereka yang paling dulu hadir, menata masjid, memastikan kebersihan, dan menjaga suasana ibadah. Sistem marbot perlu mendapat perhatian khusus dalam penilaian,” kata Menag.

Kedua, muadzin. “Pilih muadzin yang merdu suaranya. Suara adzan yang indah bisa menjadi magnet mengajak masyarakat datang ke masjid,” jelasnya.

Ketiga, imam. “Imam itu harus punya psikologi yang baik, berwibawa, dan mampu menuntun jamaah dengan kelembutan,” imbuh Menag.

Keempat, khatib. “Khatib harus mampu menyampaikan ceramah yang modern, relevan, dan menggambarkan nilai moderasi beragama,” tegasnya.

Menag juga mengingatkan bahwa banyak masjid besar justru tidak makmur karena terlalu eksklusif dan hanya mengedepankan kelompok tertentu. “Jangan pilih masjid yang mempertajam mazhab atau eksklusif dengan ajarannya sendiri. Pilih masjid yang akomodatif dan menjaga kerukunan. Masjid itu harus menjadi tempat yang mempersatukan, bukan memisahkan,” tegas Menag.

“Masjid yang baik bukan yang mengaji 24 jam tanpa melihat lingkungan masyarakat sekitar. Masjid harus peka, menyejukkan, dan menjaga ketenangan lingkungan sekitarnya,” tutur Menag.

Menag juga menambahkan harapan agar penghargaan semacam ini dapat menumbuhkan motivasi bagi pengurus masjid di Indonesia untuk terus memperbaiki layanan, tata kelola, dan program sosialnya.

“Apa yang dilakukan Astra ini sangat bermanfaat. Saya berharap penghargaan ini ke depan dapat diperluas ke lebih banyak masjid di Indonesia, sehingga semangat memakmurkan masjid semakin meluas,” pungkas Menag.

(Kontributor: Riski)